Kelayakan Luka Modric

February 5, 2019 0 By eddye

Bukan Cristiano Ronaldo. Gelar The Best FIFA Men`s Player 2018 diraih Luka Modric. Artinya, versi FIFA, pemain paling baik dunia waktu ini adalah Modric. Untuk pertama kalinya sejak 2007—ketika Kaka memperoleh gelar FIFA World Player of the Year— gelar pemain paling baik dunia diraih oleh “manusia”, bukan “alien”. Meski gelar berikut sempat bergeser titel jadi FIFA Ballon d`Or (2010-2015) dan The Best FIFA Men`s Player (sejak 2016). Modric dinilai tampil lebih baik daripada Messi dan Ronaldo, yang disebut-sebut sebagai dua pemain paling baik sejagat ini, selama musim 2017/18. Layakkah ia memperoleh gelar tersebut? Luka Modric mengakhiri musim 2017/18 bersama dengan membawa Real Madrid juara Piala Super Spanyol, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, dan Liga Champions. Selain itu, ia terhitung membawa Timnas Kroasia mencapai babak final Piala Dunia 2018.

Dibanding Messi dan Ronaldo, capaian Modric jauh lebih mentereng. Messi “hanya” menjuarai gelar La Liga Spanyol dan Copa del Rey. Messi pun tak masuk tiga besar kali ini. Ronaldo, yang musim lalu masih di Real Madrid (sekarang Juventus), kalah berasal dari Modric melalui pencapaian Piala Dunia. Jika Modric sukses ke final, Ronaldo bersama dengan Timnas Portugal tersingkir di babak 16 besar. Ronaldo yang jadi pemain paling baik pada 2016 dan 2017 pun kudu senang duduk di peringkat kedua. Peringkat ketiga ditempati oleh Mohamed Salah. Penyerang Timnas Mesir ini sesungguhnya tanpa piala. Tapi penampilannya pada musim 2017/18 sesungguhnya luar biasa. Secara tim, ia membawa Liverpool ke partai final Liga Champions. Secara pribadi, ia mencetak keseluruhan 44 gol berasal dari 52 penampilan; biarpun sesungguhnya torehan golnya itu masih kalah berasal dari Messi (45 gol berasal dari 54 laga) dan Ronaldo (44 gol berasal dari 44 laga). Dari sini telah muncul memadai paham bahwa Modric sesungguhnya layak dinahbiskan sebagai pemain paling baik dunia musim 2018. Walau sepakbola adalah permainan sebuah tim, kapabilitas pemain berusia 33 th. ini sesungguhnya memengaruhi permainan Real Madrid maupun Kroasia secara menyeluruh.

Torehan gol Modric di Real Madrid sesungguhnya cuma dua. Asisnya pun cuma tujuh. Di Piala Dunia, ia mencetak dua gol dan satu asis. Tapi kehebatan Modric sesungguhnya tidak mampu dicermati berasal dari angka statistik semata. Apalagi ia bukan Ronaldo, Messi, atau Salah yang memiliki tugas utama mencetak gol. Modric menempati pos gelandang tengah baik itu di Real Madrid maupun di Kroasia. Meski secara detail permainan ada perbedaan peran waktu ia berseragam Madrid dan Kroasia, tetapi secara keseluruhan, pemain kelahiran Zadar berikut merupakan ruh kesebelasan. Madrid dan Kroasia memiliki lini tengah mumpuni berkat kemampuannya menyeimbangkan lini tengah baik waktu bertahan maupun menyerang. Dalam formasi 4-3-3 yang diterapkan Real Madrid atau Kroasia, ia bukan seorang gelandang serang yang cuma menunggu bola di dekat kotak penalti lawan. Ia bersama dengan Toni Kroos di Real Madrid atau Ivan Rakitic di Kroasia, berada di depan holding midfielder untuk jadi jembatan pada lini belakang dan depan.

Walaupun begitu dikatakan situs judi bola, secara peran dan berdasarkan statistik, Modric sesungguhnya tidak lebih baik berasal dari Kroos. Di La Liga misalnya, Kroos jadi gelandang bersama dengan jumlah operan terbanyak per laga 76,7 operan per laga. Modric “hanya” 59,9 operan per laga. Sementara itu, Kroos mencatatkan 64 umpan kunci kala Modric “hanya” menorehkan 39 umpan kunci. Padahal secara peran, keduanya tak jauh berbeda. Yang membedakan mutu Kroos dan Modric adalah penampilan keduanya di Piala Dunia. Kroos yang terhitung jadi ruh permainan Jerman tak mampu menunjang timnya lolos ke fase gugur. Padahal kawan setim Kroos di Timnas Jerman sesungguhnya lebih memiliki kualitas dibanding kawan setim Modric di Kroasia. Tapi bersama dengan Modric yang jadi kapten, dan juga Zlatko Dalic sebagai pelatih, para pemain Kroasia yang sebagian besar tidak memiliki nama mentereng sukses mencapai prestasi paling baik dan penampilan terbaik.

Penampilan Modric di Kroasia sesungguhnya perlihatkan kelas eks pemain Tottenham Hotspur ini. Meski telah berusia 33 tahun, ia jadi salah satu pemain yang tetap diturunkan Dalic. Dalam tujuh laga, pada fase gugur, ia tetap bermain hingga 120 menit permainan. Hanya di final ia bermain normal 90 menit. Tapi stamina dan kualitasnya tetap terjaga. Padahal Kroasia menampilkan permainan menghimpit di mana para pemainnya, tak jika Modric, dapat tetap mengusahakan merebut bola sejak lawan menguasai di lokasi pertahanannya sendiri.